Assalamualaikum wr..wb.. yuk simak potret pendidikan di Indonesia kita tercinta ini..
Desa Mengkalang Guntung merupakan satu dari 20 desa, yang menjadi bagian dari wilayah administratif Pemerintahan Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Beberapa dekade silam, desa ini jadi potret bagi sebagian besar wilayah Kabupaten Kubu Raya lainnya, terpisahkan oleh beberapa bentangan sungai, yang membuat daerah ini, dan banyak desa lainnya terisolasi.
Sungai merupakan jalur transportasi utama mencapai lokasi ini, sampai revolusi perkebunan terjadi beberapa tahun belakangan, yang ditandai dengan tersebar luasnya wilayah konsesi perkebunan sawit, hingga memunculkan alternatif jalur darat melewati area perkebunan.
Saat ini, untuk mencapai Desa Mengkalang Guntung, jalur perairan dan jalur darat sama-sama bisa bisa dijadikan alternatif. Sebagaimana yang terucap dalam aporisma lama, ‘banyak jalan menuju Roma’, begitu pula jalan menuju desa ini. Jika perjalanan dimulai dari Rasau Jaya, tepatnya pelabuhan rakyat Rasau Jaya, ada dua jenis sarana transportasi yang bisa dipilih, yakni speedboat, dan kapal motor, yang biasa dikenal masyarakat setempat dengan sebutan ‘Motor Air Klotok’.
Masing-masing menawarkan sensasi yang berbeda, sesuai selera penggunanya, meski jalur yang ditempuh, relatif sama. Dari pelabuhan Rasau Jaya, perjalanan diteruskan menuju Desa Olak-Olak Pinang, dimana perjalanan akan bertemu persimpangan, tiga cabang sungai terpanjang ke dua di dunia, dan terpanjang se Indonesia, Sungai Kapuas. Di Pertigaan ini, perjalanan diteruskan, mengambil jalur sebelah kanan, lalu sampai ke Desa Jangkang, terus lurus, hingga tiba di Desa Kampung baru, lurus sampai ke Desa Air Putih,megambil jalur sebelah kiri, menuju ke Desa Teluk Nangka, untuk seterusnya sampai ke Kubu, pusat Pemerintahan Administratif Kecamatan Kubu.
Dari sini, perjalanan dilanjutkan sampai ke Muara Kubu, mengambil cabang sungai sisi sebelah kanan, menuju Desa Dabung, desa yang pada satu sisinya bersebelahan dengan jalur sungai, dan pada satu sisi lainnya, menghadap laut lepas.
Sampai di Desa Dabung, jika menggunakan Motor Air Klotok, perjalanan menghabiskan waktu sekitar empat sampai enam jam, dan uang sejumlah Rp 45 ribu, sebagai ongkos jasa perjalanan, sedangkan jika menggukan Speedboat, waktu perjalanan dapat dipersingkat menjadi hanya dua sampai tiga jam, dengan biaya sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Dari Desa Dabung ini, perjalanan menuju Desa Mengkalang Guntung, dapat dilanjutkan melewati dua alternatif jalur, yakni jalur perairan sungai, dan jalur darat.
Jalur sungai, dari Desa Dabung, pada saat air pasang, akan melewati selat jalur kiri, menuju Desa Sepok Mengkalang, sedang pada saat air surut, dapat menyusuri sisi sungai. Jika hendak ke Desa Mengkalang Guntung, Desa Sepok Mengkalang sendiri, merupakan jalur terakhir yang dilalui Motor Air Klotok, sehingga dari Sepok mengkalang, perjalanan harus dilanjutkan menyusuri sungai, dengan menyewa motor air khusus, berbiaya kisaran Rp 75 ribu, hingga Rp 100 ribu, tergantung negosiasi.
Namun, jika menggunakan Speedboat, dari Pelabuhan Rasau Jaya, perjalanan dapat diupayakan langsung menuju ke Mengkalang Guntung, dengan total Biaya Rp 175 ribu.
Sebaliknya, jika dari Desa Dabung hendak memilih jalur darat, perjalanan dapat dilanjutkan ke Desa Sembuluk, menuju Mengkalang Guntung. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui pasti jarak antara Desa Sembuluk menuju Desa Mengkalang Guntung. Hanya saja, masyarakat lebih familiar dengan waktu tempuh, ketimbang jarak tempuh.
“Dari Dabung, masuk ke (Desa) Sembuluk, kalau mau ke Mengkalang Guntung, (menggunakan sepeda motor) kurang lebih sekitar satu setengah sampai dua jam - an lebih lah,” ujar Manaf (68), satu di antara warga Mengkalang Guntung.
Jalur darat, melewati wilayah konsesi perkebunan sawit, sebenarnya menawarkan waktu perjalanan yang jauh lebih singkat jika dibanding jalur perairan menggunakan Motor Air Klotok. Waktu tempuh yang diperlukan hanya sekitar tiga hingga empat jam, dari Rasau Jaya, hingga tiba di Mengkalang Guntung.
Ada banyak pilihan rute yang bisa diambil, Dari Rasau jaya, melewati Ambawang,menyebrang sungai untuk terus ke area perkebunan PT Sintang Raya, hingga ke Mengkalang Guntung. Hanya saja, jalurnya relatif tidak populer dan dinilai beresiko.
“Kalau tidak faham, sebaiknya jangan, bisa sesat nanti,” Ujar Abdullah (48), Pria yang juga Guru di Sekolah Dasar (SD) Negeri 12 Kubu, Mengkalang Guntung.
Rute darat yang dianggap termudah dan terdekat, bisa dimulai dari Rasau Jaya, menyeberangi sungai ke area perkebuan PT MAR, lewat penyeberangan Bintang Mas. Di sini, cukup mengeluarkan uang Rp lima ribu untuk biaya penyebarangan.
Dari sini, perjalanan dilanjutkan melewati area perkebunan, jalurnya terbentang luas dan bercabang-cabang, hanya saja, terdapat penanda arah jalan sebagai petunjuk, sehingga terasa lebih memudahkan.
Selama satu hingga dua jam perjalanan melewati area perkebunan, akan sampai ke Desa Air Putih, lalu menyeberang ke Desa Pelita Jaya , Olak – Olak. Di penyeberangan kali ini, biayanya sedikit lebih mahal Rp seribu, dari penyeberangan pertama, di Bintang Mas.
Perjalanan kembali menemui hamparan perkebunan sawit. Kali ini, setidaknya terdapat empat hingga lima blok kebun sawit siap panen yang harus dilewati, mulai dari blok K 26. Ada dua area perkebunan yang harus dilewati, yakni area perkebunan milik PT Sintang Raya, dan lahan Konsesi milik PT CTB.
Perjalanannya terbilang cukup esktrim saat hujan tiba. Kondisi jalan yang berstruktur tanah lembut, ditambah banyaknya parit pemisah antar blok, yang tak jarang hanya dihubungkan oleh sebatang kayu, jadi tantangan tersendiri. Maka tak heran, dalam kondisi hujan, waktu yang dibutuhkan relatif lama, namun jika kondisi ideal, jalanan relatif kering, hanya butuh sekitar satu hingga dua jam perjalanan untuk sampai ke Mengkalang Guntung.
Usai melewati area perkebunan, jalan poros perkampungan akan langsung dihadapan. Jalan beton rata-rata berukuran satu meter, terbentang di beberapa desa. Desa pertama yang akan ditemu di jalan poros ini, adalah desa Mengkalang Jambu, beberapa kilometer ke depan, dibatasi oleh parit, tibalah di Desa Mengkalang Guntung.
Hanya ada satu fasilitas pendidikan yang bisa dinikmati masyarakat setempat, yakni SD Negeri 12 Kubu, Desa Mengkalang Guntung, sebelum akhirnya pada awal 2010, melalui pembiayaan dari dana pinjaman kepada Pemerintah Australia, lewat program AIBEP Loan Agreement AIPRD L 001, Bloc Grant Tahun Anggaran 2009, dibangunlah sebuah fasilitas pendidikan tingkat menengah, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 8 Kubu, Desa Mengkalang Guntung.
Sekolah yang dibangun menghabiskan biaya sebesar Rp 1,496 Miliar, dan diresmikan pada 31 Januari 2010, setidaknya memiliki delapan ruangan, yang terdiri dari satu ruangan Kepala Sekolah, Satu Ruang Guru, satu fasilitas ibadah, sisanya ruang belajar dan ruangan fasilitas lain.
Meski terbilang baru, dioperasikan dalam enam tahun belakangan, dan sudah meluluskan tiga angkatan siswa, kerusakan sudah terlihat pada beberapa sisi bangunan, terutama pada sisi lantai, sebagian sisinya, ubin terlihat lepas dan beberapa bagian lain mengalami keretakan, selain itu, di bagian belakang, rerumputan tampak meninggi.
Bukan hanya itu, kondisi lain yang tak kalah memprihatinkan adalah ketersediaan tenaga pengajar di Sekolah ini. “Kami (tenaga pengajar) semuanya ada enam orang Pak, dari enam ini, dua PNS (Pegawai Negeri Sipil), termasuk Kepala Sekolah, satunya lagi Pak Kaseri, Guru Penjaskes, sisanya tenaga honorer,” ujar Wakil Kepala SMP Negeri 8 Kubu, Susana (48).
SMP ini sendiri, setidaknya menjadi sarana belajar bagi dua desa, yakni Desa Mengkalang Guntung, dan Desa Mengkalang Jambu, bahkan juga bagi sebagian pelajar desa lain, yang bersebelahan dengan Mengkalang Guntung, Desa Seruat.
Kondisi ini, memaksa enam orang tenaga pengajar, mesti melayani lebih dari seratus pelajar, dari seluruh jenjang kelas. “Kami disini, data terakhir, siswa kami seluruhnya sekitar 117. Tiap tahun ajaran baru, biasanya terima 30 sampai 40 siswa,” ujar wanita yang pernah tinggal di Perumahan Teluk Mulus, Sungai Raya, Kubu Raya ini.
Ia dan guru lainnya, harus memutar otak, agar 11 mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa, dalam proses belajar mengajar, tetap bisa optimal dilaksanakan, terlebih, pada waktu tertentu, Kepala Sekolah, harus mengikuti Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), sehingga mengurangi jumlah tenaga pengajar.
Namun, ia mengaku senang, pasalnya, dalam beberapa waktu lalu, ia mendapat kabar, akan kedatangan beberapa tambahan guru baru berstatus PNS.
“Katanya akan ada tambahan guru, tapi jumlahnya berapa, ngajar mata pelajaran apa, saya belum tahu pasti,” ujarnya.
Selain itu, budaya masyarakat setempat, yang dekat dengan area industri perkebunan sawit, seakan menjadi godaan tersendiri bagi masyarakat sekitar, khusunya anak didiknya. Tak jarang ia dapati, anak-anak didiknya, karena alasan ekonomi, lebih memilih bekerja sebagai buruh di perusahaan, hingga akhirnya putus sekolah.
“2010 lalu, tahun pertama kami buka, penerimaan siswa baru sampai 75 siswa, tiga tahun kemudian, saat mau ujian di 2013, yang tersisa cuma separuhnya, sekitar 30 –an siswa saja,” ujarnya prihatin.
Mendapati kondisi itu, ia mengaku sedih, menurutnya dirinya telah berupaya membujuk anak didiknya, agar tetap melanjutkan pendidikan, hanya saja, tak semua merespon baik ajakannya, banyak di antaranya menolak, dengan alasan telah merasa nyaman bekerja dan berpenghasilan.
Saat ini, untuk mencapai Desa Mengkalang Guntung, jalur perairan dan jalur darat sama-sama bisa bisa dijadikan alternatif. Sebagaimana yang terucap dalam aporisma lama, ‘banyak jalan menuju Roma’, begitu pula jalan menuju desa ini. Jika perjalanan dimulai dari Rasau Jaya, tepatnya pelabuhan rakyat Rasau Jaya, ada dua jenis sarana transportasi yang bisa dipilih, yakni speedboat, dan kapal motor, yang biasa dikenal masyarakat setempat dengan sebutan ‘Motor Air Klotok’.
Masing-masing menawarkan sensasi yang berbeda, sesuai selera penggunanya, meski jalur yang ditempuh, relatif sama. Dari pelabuhan Rasau Jaya, perjalanan diteruskan menuju Desa Olak-Olak Pinang, dimana perjalanan akan bertemu persimpangan, tiga cabang sungai terpanjang ke dua di dunia, dan terpanjang se Indonesia, Sungai Kapuas. Di Pertigaan ini, perjalanan diteruskan, mengambil jalur sebelah kanan, lalu sampai ke Desa Jangkang, terus lurus, hingga tiba di Desa Kampung baru, lurus sampai ke Desa Air Putih,megambil jalur sebelah kiri, menuju ke Desa Teluk Nangka, untuk seterusnya sampai ke Kubu, pusat Pemerintahan Administratif Kecamatan Kubu.
Dari sini, perjalanan dilanjutkan sampai ke Muara Kubu, mengambil cabang sungai sisi sebelah kanan, menuju Desa Dabung, desa yang pada satu sisinya bersebelahan dengan jalur sungai, dan pada satu sisi lainnya, menghadap laut lepas.
Sampai di Desa Dabung, jika menggunakan Motor Air Klotok, perjalanan menghabiskan waktu sekitar empat sampai enam jam, dan uang sejumlah Rp 45 ribu, sebagai ongkos jasa perjalanan, sedangkan jika menggukan Speedboat, waktu perjalanan dapat dipersingkat menjadi hanya dua sampai tiga jam, dengan biaya sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Dari Desa Dabung ini, perjalanan menuju Desa Mengkalang Guntung, dapat dilanjutkan melewati dua alternatif jalur, yakni jalur perairan sungai, dan jalur darat.
Jalur sungai, dari Desa Dabung, pada saat air pasang, akan melewati selat jalur kiri, menuju Desa Sepok Mengkalang, sedang pada saat air surut, dapat menyusuri sisi sungai. Jika hendak ke Desa Mengkalang Guntung, Desa Sepok Mengkalang sendiri, merupakan jalur terakhir yang dilalui Motor Air Klotok, sehingga dari Sepok mengkalang, perjalanan harus dilanjutkan menyusuri sungai, dengan menyewa motor air khusus, berbiaya kisaran Rp 75 ribu, hingga Rp 100 ribu, tergantung negosiasi.
Namun, jika menggunakan Speedboat, dari Pelabuhan Rasau Jaya, perjalanan dapat diupayakan langsung menuju ke Mengkalang Guntung, dengan total Biaya Rp 175 ribu.
Sebaliknya, jika dari Desa Dabung hendak memilih jalur darat, perjalanan dapat dilanjutkan ke Desa Sembuluk, menuju Mengkalang Guntung. Tidak banyak masyarakat yang mengetahui pasti jarak antara Desa Sembuluk menuju Desa Mengkalang Guntung. Hanya saja, masyarakat lebih familiar dengan waktu tempuh, ketimbang jarak tempuh.
“Dari Dabung, masuk ke (Desa) Sembuluk, kalau mau ke Mengkalang Guntung, (menggunakan sepeda motor) kurang lebih sekitar satu setengah sampai dua jam - an lebih lah,” ujar Manaf (68), satu di antara warga Mengkalang Guntung.
Jalur darat, melewati wilayah konsesi perkebunan sawit, sebenarnya menawarkan waktu perjalanan yang jauh lebih singkat jika dibanding jalur perairan menggunakan Motor Air Klotok. Waktu tempuh yang diperlukan hanya sekitar tiga hingga empat jam, dari Rasau Jaya, hingga tiba di Mengkalang Guntung.
Ada banyak pilihan rute yang bisa diambil, Dari Rasau jaya, melewati Ambawang,menyebrang sungai untuk terus ke area perkebunan PT Sintang Raya, hingga ke Mengkalang Guntung. Hanya saja, jalurnya relatif tidak populer dan dinilai beresiko.
“Kalau tidak faham, sebaiknya jangan, bisa sesat nanti,” Ujar Abdullah (48), Pria yang juga Guru di Sekolah Dasar (SD) Negeri 12 Kubu, Mengkalang Guntung.
Rute darat yang dianggap termudah dan terdekat, bisa dimulai dari Rasau Jaya, menyeberangi sungai ke area perkebuan PT MAR, lewat penyeberangan Bintang Mas. Di sini, cukup mengeluarkan uang Rp lima ribu untuk biaya penyebarangan.
Dari sini, perjalanan dilanjutkan melewati area perkebunan, jalurnya terbentang luas dan bercabang-cabang, hanya saja, terdapat penanda arah jalan sebagai petunjuk, sehingga terasa lebih memudahkan.
Selama satu hingga dua jam perjalanan melewati area perkebunan, akan sampai ke Desa Air Putih, lalu menyeberang ke Desa Pelita Jaya , Olak – Olak. Di penyeberangan kali ini, biayanya sedikit lebih mahal Rp seribu, dari penyeberangan pertama, di Bintang Mas.
Perjalanan kembali menemui hamparan perkebunan sawit. Kali ini, setidaknya terdapat empat hingga lima blok kebun sawit siap panen yang harus dilewati, mulai dari blok K 26. Ada dua area perkebunan yang harus dilewati, yakni area perkebunan milik PT Sintang Raya, dan lahan Konsesi milik PT CTB.
Perjalanannya terbilang cukup esktrim saat hujan tiba. Kondisi jalan yang berstruktur tanah lembut, ditambah banyaknya parit pemisah antar blok, yang tak jarang hanya dihubungkan oleh sebatang kayu, jadi tantangan tersendiri. Maka tak heran, dalam kondisi hujan, waktu yang dibutuhkan relatif lama, namun jika kondisi ideal, jalanan relatif kering, hanya butuh sekitar satu hingga dua jam perjalanan untuk sampai ke Mengkalang Guntung.
Usai melewati area perkebunan, jalan poros perkampungan akan langsung dihadapan. Jalan beton rata-rata berukuran satu meter, terbentang di beberapa desa. Desa pertama yang akan ditemu di jalan poros ini, adalah desa Mengkalang Jambu, beberapa kilometer ke depan, dibatasi oleh parit, tibalah di Desa Mengkalang Guntung.
Hanya ada satu fasilitas pendidikan yang bisa dinikmati masyarakat setempat, yakni SD Negeri 12 Kubu, Desa Mengkalang Guntung, sebelum akhirnya pada awal 2010, melalui pembiayaan dari dana pinjaman kepada Pemerintah Australia, lewat program AIBEP Loan Agreement AIPRD L 001, Bloc Grant Tahun Anggaran 2009, dibangunlah sebuah fasilitas pendidikan tingkat menengah, Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 8 Kubu, Desa Mengkalang Guntung.
Sekolah yang dibangun menghabiskan biaya sebesar Rp 1,496 Miliar, dan diresmikan pada 31 Januari 2010, setidaknya memiliki delapan ruangan, yang terdiri dari satu ruangan Kepala Sekolah, Satu Ruang Guru, satu fasilitas ibadah, sisanya ruang belajar dan ruangan fasilitas lain.
Meski terbilang baru, dioperasikan dalam enam tahun belakangan, dan sudah meluluskan tiga angkatan siswa, kerusakan sudah terlihat pada beberapa sisi bangunan, terutama pada sisi lantai, sebagian sisinya, ubin terlihat lepas dan beberapa bagian lain mengalami keretakan, selain itu, di bagian belakang, rerumputan tampak meninggi.
Bukan hanya itu, kondisi lain yang tak kalah memprihatinkan adalah ketersediaan tenaga pengajar di Sekolah ini. “Kami (tenaga pengajar) semuanya ada enam orang Pak, dari enam ini, dua PNS (Pegawai Negeri Sipil), termasuk Kepala Sekolah, satunya lagi Pak Kaseri, Guru Penjaskes, sisanya tenaga honorer,” ujar Wakil Kepala SMP Negeri 8 Kubu, Susana (48).
SMP ini sendiri, setidaknya menjadi sarana belajar bagi dua desa, yakni Desa Mengkalang Guntung, dan Desa Mengkalang Jambu, bahkan juga bagi sebagian pelajar desa lain, yang bersebelahan dengan Mengkalang Guntung, Desa Seruat.
Kondisi ini, memaksa enam orang tenaga pengajar, mesti melayani lebih dari seratus pelajar, dari seluruh jenjang kelas. “Kami disini, data terakhir, siswa kami seluruhnya sekitar 117. Tiap tahun ajaran baru, biasanya terima 30 sampai 40 siswa,” ujar wanita yang pernah tinggal di Perumahan Teluk Mulus, Sungai Raya, Kubu Raya ini.
Ia dan guru lainnya, harus memutar otak, agar 11 mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa, dalam proses belajar mengajar, tetap bisa optimal dilaksanakan, terlebih, pada waktu tertentu, Kepala Sekolah, harus mengikuti Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), sehingga mengurangi jumlah tenaga pengajar.
Namun, ia mengaku senang, pasalnya, dalam beberapa waktu lalu, ia mendapat kabar, akan kedatangan beberapa tambahan guru baru berstatus PNS.
“Katanya akan ada tambahan guru, tapi jumlahnya berapa, ngajar mata pelajaran apa, saya belum tahu pasti,” ujarnya.
Selain itu, budaya masyarakat setempat, yang dekat dengan area industri perkebunan sawit, seakan menjadi godaan tersendiri bagi masyarakat sekitar, khusunya anak didiknya. Tak jarang ia dapati, anak-anak didiknya, karena alasan ekonomi, lebih memilih bekerja sebagai buruh di perusahaan, hingga akhirnya putus sekolah.
“2010 lalu, tahun pertama kami buka, penerimaan siswa baru sampai 75 siswa, tiga tahun kemudian, saat mau ujian di 2013, yang tersisa cuma separuhnya, sekitar 30 –an siswa saja,” ujarnya prihatin.
Mendapati kondisi itu, ia mengaku sedih, menurutnya dirinya telah berupaya membujuk anak didiknya, agar tetap melanjutkan pendidikan, hanya saja, tak semua merespon baik ajakannya, banyak di antaranya menolak, dengan alasan telah merasa nyaman bekerja dan berpenghasilan.
Sumber: Tribunnews
0 Response to "MIRIS, PENDIDIKAN DI PEDESAAN DI INDONESIA"
Posting Komentar
Terimakasih atas kunungan anda, silahkan berikan tanggapan dan komentar anda dengan bahasa yang baik dan sopan.